Kanker Bukan Berarti Mati dengan Cepat

Apa yang terpikir ketika Anda mendengar kata ‘kanker’? Tentu kematian. Apalagi ditambah embel-embel ‘stadium empat’ di belakangnya.

Ridwan (40) membuktikannya. Setelah divonis menderita kanker nasofaring (daerah rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut) stadium empat pada enam tahun silam, pengajar bahasa Korea ini akhirnya dinyatakan sembuh pada tahun 2008.

“Kalau dengar kanker kan pasti mikirnya kematian dan biaya yang dikeluarkan mahal, tapi tidak selalu begitu,” ungkapnya di sela gathering para penderita kanker yang difasilitasi Cancer Information and Support Center (CISC) di Jalan Imam Bonjol, ketika bertutur kepada KOMPAS.com.

Tak muluk-muluk, Ridwan mengatakan dirinya pun berpikiran hal yang sama pada awal divonis kanker stadium empat. Pasti saya mati, pikir Ridwan kala itu. Bahkan, dirinya sempat kabur tiga hari tiga malam dari rumah, meninggalkan istrinya yang baru dinikahinya enam bulan.

Hanya supirnya yang tahu kemana dia pergi. Penolakan dan rasa malu menguasainya. Ridwan hanya ‘ngendon’ di rumah sakit. Barulah kemudian, dia pulang dan menemui istrinya. Tak disangkanya dari semula, Ridwan menerima penerimaan yang luar biasa dari istrinya.

Alih-alih memarahi, Ridwan mengatakan istrinya yang berprofesi sebagai dokter umum justru memberikan kepadanya kepercayaan diri untuk menjalani biopsi dan rangkaian kemoterapi yang menyakitkan. Memang, istrinya sudah mencurigai gejalanya sejak mereka berpacaran dan menganjurkannya untuk diperiksa. Pasalnya, terdapat benjolan di leher kanan dan kirinya. Namun, Ridwan mengaku bandel hingga kemudian gumpalan-gumpalan darah keluar dari hidungnya ketika dia membuang ingus.

Untuk sembuh, Ridwan mengaku tak gampang menghadapi rangkaian pengobatan hingga empat tahun. Untuk memenuhi biaya pengobatan, Ridwan harus menutup sejumlah cabang lembaga kursus Bahasa Korea Miliknya di daerah lain. Kini, hanya tempat kursus di Bekasi yang masih tersisa.

Anugerah Tuhan Yang Maha Esa, penerimaan akan keadaan dan dukungan dari orang-orang tersayang menjadi kunci kesembuhannya. Setelah operasi, enam kali kemoterapi, 22 kali sinar luar dan 6 kali sinar dalam, akhirnya Ridwan dinyatakan sembuh. Pun sampai sekarang dia harus tetap menjalani pemeriksaan rutin sekali setahun dan minum obat untuk mencegah sel kanker muncul kembali, dia mengaku dukungan orang lain dan rasa syukur menjadi penting baginya.

“Istri saya bisa meyakinkan saya dengan cintanya, harapannya, dengan keyakinan yang luar biasa. Dia segala-galanya, menimbulkan semangat saya dan kepercayaan diri untuk menghadapi kemoterapi,” tambahnya.

Fakta bahwa kanker tidak berkorelasi positif dengan cepatnya kematian menghampiri  juga dialami oleh Tulus (24). Pemuda berkacamata ini divonis menderita leukemia atau kanker darah jenis Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) pada umur 2 tahun dan masih hidup hingga sekarang. Bahkan, saat dijumpai Kompas.com pada momen yang sama, Tulus tampak energik!

“Saya selalu berpikir positif saja, sesuatu yang dikasih sama Tuhan pasti dia punya rencana yang indah buat saya. Makanya saya selalu berpikir yang positif saja, suatu saat Tuhan pasti punya rencana yang lain buat saya. Mungkin dengan begini, Tuhan bisa pakai saya buat kasih support ke orang-orang yang lain.

Memotivasi orang-orang, leukimia ternyata umurnya bisa panjang. Selama ini orang kan berpikiran kalau sudah divonis leukimia berpikirnya pasti umurnya pendek. Ternyata tidak.

Meski dinyatakan bersih dari sel kanker tiga tahun lalu, Tulus masih menjalani serangkaian pengobatan di RS Kanker Dharmais. Pasalnya, pria yang kini sedang menyusun skripsi tentang teknologi informasi di Universitas Bina Nusantara ini juga mengalami sakit pada paru-paru dan jantungnya.

Selain itu, dia juga mengalami penyumbatan di salah satu batang otaknya. Di tasnya juga selalu tersedia tabung oksigen untuk berjaga-jaga dalam kondisi sulit. Namun, Tulus terus belajar menjalani hidupnya dengan yakin.

“Hidup mati, kaya miskin, jodoh di tangan Tuhan. Kita ga tahu kita mati kapan. Sejauh kita masih hidup, kita hidup sebaik2nya saja. Karena kita ga tahu kapan kita akan dipanggil sama Tuhan,” tegasnya mantap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: